Asal Mula Kata Echo Dan Narsis

Dalam mitologi Yunani, diceritakan bahwa Peri yang sangat cantik, manis tidak pernah ternoda, dan suka mengoceh adalah Peri yang bernama Ekho. Suatu hari dia bertemu dengan seorang pemuda bernama Narsisus yang ganteng, dan jatuh cintalah Ekho pada Narsisus. Malang cintanya tak disambut oleh Narsisus. Maka Ekho meminta pada Dewi Kecantikan Venus untuk menghukum pemuda itu, selanjutnya dengan sangat sedih Ekho pergi ke pegunungan dan merana disana sampai dirinya musnah, kecuali suaranya yang merdu. Sebagai peringatan pada gadis yang bebas mengutarakan hatinya, dia akan mengulangi setiap bunyi terakhir yang sampai ditelinganya.

Sementara suatu hari Narsisus melihat bayangannya sendiri di sebuah telaga. Dan kagum melihat wajah yang ada dalam telaga itu, Narsisus mengira bayangannya adalah Peri cantik yang berada dalam telaga itu. Narsisus pun jatuh cinta setengah mati pada bayangannya sendiri. Tetapi apa daya, dia tidak pernah berhasil menyentuhnya, sebab setiap kali dia menyentuh air, bayangan itu pun menghilang. Akhirnya Narsisus pun meninggal dengan kesedihan yang mendalam di tepi telaga dan menjadi bunga yang hidup di tepi-tepi telaga.
Dendam Ekho pun terbalas.

Sekarang ini, kata “Ekho” atau “Echo” dalam bahasa Inggris artinya gema, yaitu suara yang memantul, sehingga bunyi akhir nampak mempunyai durasi panjang.
Sedangkan nama Narsisus menjadi kata “Narsis” yang dalam bahasa Indonesia berarti bunga narsis, kelas “amarylidaceae” yang berbunga putih, krem atau kuning. Narsis juga berarti orang yang mencintai dirinya secara berlebihan.

Sumber: IDEAlisme

No comments:

Post a Comment