Kuda Lumping Panyosogan

Diantara parade seni budaya yang dimiliki masyarakat Kuningan, tersebutlah Kuda Lumping. Seni budaya yang bercorak pertunjukan  seni rakyat ini salah satunya terdapat di kawasan timur Kota Kuningan, tepatnya di Desa Panyosogan Kecamatan Luragung.

Kuda lumping tidak dapat terlepas dari laku mistik yang membuatnya unik dan diwarnai dengan kemasan laku pertunjukan yang membuatnya menarik. Pemain dimasuki roh-roh leluhur sehingga mampu memakan benda-benda tajam seperti gelas, kaca silet, dan lain-lain. Seperti juga kuda pada umumnya, pemain juga kerap memakan rumput dan minum langsung dari ember yang disediakan. Diiringi musik reog atau genjring membuat pertunjukan kuda lumping kental dengan suasana tradisional.

Kuda Lumping atau Kuda Kulit, menurut Mak Sarti selaku pewaris sah kuda lumping, terbuat dari kulit sapi/kerbau. Ia diwarisi kuda lumping oleh Ibu Siti Aminah (Almh). Menurut Mak Sarti, kuda lumping tersebut berasal dari Cirebon dan dibawa ke Panyosogan oleh Ibu Aminah dan Bapak Wirajani.

Awalnya, kuda lumping yang diwariskan berjumlah enam buah, namun salah satu dari kuda lumping tersebut terbang entah kemana. Konon kuda lumping yang kabur itu terbuat dari kulit manusia. Ketika ritual ngujuban kuda lumping, kuda yang kabur kerap dipanggil dengan istilah nu hiji ti pakidulan.

Ritual ngujuban kuda lumping rutin dilaksanakan setiap malam jum’at dengan sesaji kopi pahit, rokok kawung, cabai hijau yang dibakar, dan lain-lain. Upacara sakral/puncak biasanya dilaksanakan pada 12 Maulid tengah malam, merupakan ritual memandikan kuda lumping, pusaka-pusaka semacam keris, dan lainnya dengan menggunakan air tujuh sumur ditambah dengan cai mulang dan segala sesaji untuk karuhun. Air bekas memandikan kuda lumping biasanya diperebutkan warga Desa Panyosogan. Konon ar tersebut memiliki berkah diantaranya dipercaya dapat menyuburkan tanaman, menjauhkan penyakit, dan tolak bala.
Untuk mengadakan pertunjukan kuda lumping, ada beberapa perangkat khas yang harus dipenuhi, seperti sesaji, permohonan ijin kepada karuhun, dan iringan musik. Terong peuheur yang sudah dibakar, cabai hijau yang sudah dibakar, rokok kawung, rokok jagung, bako tampyang, rokk shiong (rokok kemenyan), rokok gudang garam merah, kemenyan putih, dan bir yang terkadang dipinta oleh karuhun adalah macam-macam sesaji yang dimaksud. Iringan musik yang biasa dimainkan untuk mengiringi pertunjukan adalah reog dan genjring.

Usai pertunjukan, orang yang main kuda lumping biasanya disembuhkan dari pengaruh roh halus. Ngabalikan sukma, yaitu ngabalikeun sukama jalma ka jalma, sukma kuda ka kuda deui. Pertama-tama memisahan nayaga dengan kuda lumping dengan cara membaringkan keduanya dilantai atau tanah, kemudian disembur dengan air hasil ngajampeanke muka nayaga.

Kuda lumping Panyosogan pernah dipinta Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda untuk mengadakan pertunjukan pada upacara peringatan hari jadi kota Kuningan, 1 September 2005. Aneh, mobil yang membawa rombongan kuda lumping tersebut mogok dan bisa berjalan kembali setelah Mak Sarti membakar kemenyan dan mapatkeun jampe-jampe dengan maksud agar kuda lumping bersedia manggung di Kuningan. Menurut penjelasan Mak Sarti, kuda umping tidak mau naik kendaraan karena kuda lumping juga merupakan kendaraan, “masa kendaraan naik kendaraan?” tuturnya sambil tersenyum, “kecuali membakar kemenyan terus-menerus sampai datang di tempat pertunjukan.” Jelasnya.

Mengenai perawatan kuda lumping, Mak Sarti mengaku enteng-enteng bangga. Untuk mengganti kulit atau rotan kuda lumping yang rusak misalnya, beberapa ritual seperti ngujuban dan maca jangjawokankhusus harus dilaksanakan.

Oleh: Asep jejen Jaelani


No comments:

Post a Comment